0



Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi (berjaket merah putih) bersama istri tertidur pulas di ruang tunggu Bandar Udara Internasional Rio de Janeiro. Foto: Sespri Menpora.


Berita Metropolitan.com, Brazil – Sikap dan perilaku menteri dan istrinya ini berbeda sekali dengan pejabat Indonesia atau keluarga pejabat lainnya. Jika pejabat lainnya dan keluarga mereka senang memanfaatkan dan bahkan menuntut disediakan hotel mewah saat melaksanakan perjalanan dinas, menteri kita yang satu ini justru rela tidur di tempat umum layaknya masyarakat biasa. Demikian juga istrinya yang tidak mengeluh tidur di tempat terbuka di bandara.



Itulah yang hal baik, yang patut dicontoh dari Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) kita, Imam Nahrawi. 



Layaknya penumpang umum, bersama sang istri, Imam berbagi kursi di ruang tunggu. Tidur layaknya orang biasa, bukan lagi gambaran seorang menteri.



Mungkin Imam terlalu letih pasca melaksanakan tugasnya sebagai seorang menteri, dan karena itu, ketika kantuknya sudah tak tertahankan, Imam pun rela tidur di mana saja, termasuk menggelosor cuek di bangku bandara meskipun dia seorang pejabat negara yang sebenarnya berhak atas fasilitas hotel.



Itulah yang dialami Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Imam Nahrawi, seusai menjalankan tugasnya “menemani” kontingen Indonesia yang sedang berjuang di Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, selama empat hari.



Boleh dibilang, sejak mendarat di kota terbesar di Brasil itu di hari pembukaan event, Imam nyaris tak berhenti bergerak ke sana sini. Ia mendatangi tempat latihan tim dayung, menyaksikan atlet-atlet panahan bertanding, menjadi saksi keberhasilan Sri Wahyuni meraih medali perak dari cabang angkat besi, sampai mengunjungi markas “Merah Putih” di kampung atlet , serta menunggui kedatangan tim bulutangkis yang datang dari Sao Paulo hari hari Minggu kemarin.



Dalam setiap kunjungannya, sang menteri senantiasa bertegur sapa dan berbincang-bincang dengan para atlet dan ofisial, untuk sekadar menanyakan keadaan dan memberi semangat . Tak lupa, ia rajin ber-selfie bareng-bareng atlet.



“Staminanya luar biasa. Setiap hari, paling cepat itu dia itu pulang jam 11 malam. Itu juga masih sering menerima tamu sampai larut malam,” ungkap Miftakhul Ulum, asisten pribadi Imam Nahrawi, kepada wartawan.



“Kadang-kadang, kita-kita ini yang malu, kalau sampai kelihatan ngos-ngosan nemenin Pak Menteri, hehehe,” sambungnya.



“Orangnya juga santai banget. Gak pakai jaim-jaim segala. Nih, buktinya,” tambah Ulum seraya memperlihatkan foto-foto Imam “terkapar” di bangku bandara internasional Julio Cezar Riberio, Belem, Brasil, pada Senin (8/8) sore waktu setempat.



Masih dengan jaket training merah putih yang senantiasa dia kenakan selama di Rio, Imam cuek-cuek saja tidur di tempat orang lalu-lalang, saat transit dari Rio untuk berganti pesawat menuju Suriname guna melakukan kunjungan kenegaraan balasan.



Di sampingnya, tergolek tak kalah cuek, sang istri, Shobibah Rohmah, yang mendampingi suaminya dalam bertugas.  



“Lha, kita jadi nggak enak juga, Mas. Masak menteri harus tidur kayak begitu. Tapi ya gimana, dia malah cuek-cuek saja. Saya dan Mas Krisna Bayu (ketua Komisi Atlet KOI) malah ketawa-ketiwi aja ngeliatnya,” cetus Ulum.



Beda Jauh Dengan Keluarga Fadli Zon



Apa yang dilakukan Imam dan istrinya nampak berbeda jauh dengan apa yang dulu dilakukan oleh Fadli Zon dan keluarganya. Kalau istri Imam dan istrinya rela tidur di bangku sempit bandara seperti masyarakat lainnya, anak Fadli Zon justru meminta disediakan fasilitas negara selama melakukan perjalanan pribadinya di Amerika Serikat pada Juni lalu. 



Seperti dilaporkan oleh media-media nasional, sebelumnya pada bulan Juni lalu Perwakilan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) New York Benny YP Siahaan membenarkan bahwa KJRI New York telah menerima surat dari Kepala Biro KSAP Sekretariat Jenderal DPR RI.



Surat itu terkait rencana perjalanan putri Wakil Ketua DPR RI/Korpolkam Fadli Zon ke Amerika Serikat (AS).



Ia menyebutkan, surat bernomor 271/KSAP/DPR RI/VI/2016 itu diterima pada 10 Juni 2016.



Putri Fadli Zon, Shafa Sabila Fadli, pergi ke New York pada tanggal 12 Juni-12 Juli 2016 dalam rangka mengikuti Summer Camp Stage Manor di Loch Sheldrake.



Dalam surat itu, KJRI diminta melakukan penjemputan serta pendampingan selama di New York.



“Yang bersangkutan memang akan mendarat di New York menggunakan penerbangan Emirates nomor penerbangan EK 201 pukul 14.15 siang di Bandara JFK New York,” kata Benny, melalui keterangan tertulisnya, Selasa (28/6/2016).



Benny menyatakan, terkait hal tersebut, KJRI New York telah membalas surat tersebut pada tanggal 10 Juni yang menginformasikan bahwa KJRI New York hanya dapat membantu penjemputan di bandara dan transportasi dari bandara ke hotel di New York.



“Karena keterbatasan anggaran, KJRI New York tidak dapat memfasilitasi pendampingan karena jaraknya yang sekitar 200 km dari kota New York,” kata Benny.



Sebelumnya, beredar surat permohonan dari Sekretariat Jenderal DPR kepada KJRI New York untuk menjemput dan mendampingi putri Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang hendak mengikuti Summer Camp Stage Manor di Loch Sheldrake.



Hingga Senin (27/6/2016) malam, Fadli Zon belum memberi tanggapan saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut. (detik.com/BN-100816).



Source link



Posting Komentar

 
Top