0



Berita Metropolitan – Usai sidang di Mahkamah Konstitusi, Gubernur

DKI Jakarta Basuki Tjahaja (Ahok) tiba-tiba saja diteriaki ‘gila’ oleh

Habib Novel Bamukmin alias Habib Novel. Habib Novel bereaksi keras,

karena tak terima Ahok yang dianggap telah mempermainkan ayat suci

Al-Qur’an. Sebelumnya, setelah menyapa warga di Kepulauan Seribu, Ahok

sempat menyebut kalau warga dibohongi dengan menggunakan ayat Al-Maidah

untuk tidak memilih dirinya.

 

Seperti diketahui, ayat dari Surah Al-Maidah yang kerap disebut sebagai dalil menolak ‘pemimpin kafir’ itu ialah



“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil

orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi ‘awliya’; sebahagian mereka

adalah awliya bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu

mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk

golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada

orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)



Benarkan ayat di atas menyerukan penolakan “pemimpin kafir”? Menurut

pakar tafsir Al-Qur’an Prof. Quraish Shihab, ayat di atas tidaklah

berdiri sendiri namun memiliki kaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Hanya

memenggal satu ayat dan melepaskan ayat lain berimplikasi pada

kesimpulan akhir. Padahal, Al-Maidah ayat 51 merupakan kelanjutan atau

konsekuensi dari petunjuk-petunjuk sebelumnya.


“Konsekuensi dari sikap orang yang memusuhi Al-Qur’an, enggan mengikuti tuntunannya…”

Pada ayat sebelumnya, Al-Qur’an diturunkan untuk meluruskan apa yang

keliru dari kitab Taurat dan Injil akibat ulah kaum-kaum sebelumnya.

Jika mereka – Yahudi dan Nasrani, enggan mengikuti tuntunan Al-Qu’ran,

maka mereka berarti memberi  ‘peluang’ pada Allah untuk menjatuhkan

siksa terhadap mereka karena dosa-dosa yang mereka lakukan.



“Jadi, mereka dinilai enggan mengikuti tuntunan Tuhan tapi senang mengikuti tuntunan jahiliah,” katanya dalam pengajian Tafsir Al-Qur’an di salah satu stasiun TV swasta.



Lalu, dilanjutkan oleh ayat 51 surat Al-Maidah. Kalau memang seperti

itu sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani – mengubah kitab suci mereka,

enggan mengikuti Al-Qur’an, keinginannya mengikuti jahiliyah, – “Maka

wahai orang-orang beriman janganlah engkau menjadikan orang-orang Yahudi

dan Nasrani sebagai awliya.”



Bagi Quraish Shihab, hubungan ayatini dan ayat sebelumnya sangat ketat. “Kalau begitu sifat-sifatnya, jangan jadikan mereka awliya. Nah, awliya itu apa?,” tanyanya memantik diskusi sebelum mengkaji lebih dalam.



‘Awliya’ ialah jamak atau bentuk plural dari ‘wali’. Di Indonesia,

kata ini populer sehingga ada kata wali-kota, wali-nikah dst. Wali

ialah, kata penulis Tafsir Al Misbah ini, pada mulanya berarti “yang

dekat”.  Karena itu, waliyullah juga bisa diartikan orang yang dekat dengan Allah.


“Wali kota itu berarti yang mestinya paling dekat dengan masyarakat.

Orang yang paling cepat membantu Anda, ialah orang yang paling dekat

membantu Anda. Nah, dari sini lantas dikatakan bahwa wali itu pemimpin

atau penolong.”



Adapun wali dalam pernikahan – apalagi terhadap anak gadis –

sebenarnya fungsinya melindungi anak gadis itu dari pria yang hanya

ingin ‘iseng’ padanya. Seseorang yang dekat pada yang lain, berarti ia

senang padanya. Karena itu, iblis jauh  dari kebaikan karena ia tidak

senang.



“Dari sini, kata ‘wali’ yang jamaknya ‘awliya’ memiliki makna bermacam-macam.”



Yang jelas, kata jebolan Al Azhar Mesir ini, kalau ia dalam konteks

hubungan antar manusia, berarti persahabatan yang begitu kental.

Sedemikan hingga tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Demikian pula

hubungan suami-istri yang dileburkan oleh cinta.



“Dalam ayat ini, jangan angkat mereka –Yahudi dan Nasrani- yang

sifatnya seperti dikemukakan pada ayat sebelumnya menjadi wali atau

orang dekatmu. Sehingga engkau membocorkan rahasia kepada mereka.”



Dengan demikian, ‘awliya’ bukan sebatas bermakna pemimpin, kata

Quraish Shihab. “Itu pun, sekali lagi, jika mereka enggan mengikuti

tuntunan Allah dan hanya mau mengikuti tuntunan Jahiliyah seperti ayat

yang lain.”



Contohnya, jika mereka juga menginginkan kemaslahatan untuk kita,

boleh tidak kita bersahabat? Quraish Shihab kembali bertanya, jika ada

pilihan antara pilot pesawat yang pandai namun kafir dan pilot kurang

pandai yang Muslim, “pilih mana?” sontak jamaah yang hadir pun tertawa.



Atau, pilihan antara dokter kafir yang kaya pengalaman dan dokter

Muslim tapi minim pengalaman. Dalam konteks seperti ini, bagi Quraish

Shihab, tidak dilarang. Yang terlarang ialah melebur sehingga tidak ada

lagi perbedaan termasuk dalam kepribadian dan keyakinan. Karena tidak

ada lagi batas, kita menyampaikan hal-hal yang berupa rahasia pada

mereka. 


“Itu yang terlarang.”



Namun kalau pergaulan sehari-hari, dagang, membeli barang dari

tokonya dsb, tidaklah dilarang. Selanjutnya ayat ini berbicara tentang

sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Artinya, sebagian

orang Yahudi bekerjasama dengan orang Nasrani yang walaupun keduanya

beda agama namun kepentingannya sama, yaitu mencederai kalian. Oleh

sebab itu, Al-Qur’an berpesan, “Siapa yang menjadikan mereka itu orang

yang dekat, yaitu meleburkan kepribadiannya sebagai Muslim sehingga sama

keadaannya (sifat-sifatnya) dengan mereka, oleh ayat ini diaggap sama

dengan mereka.”



Terakhir, Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang zalim.

Menurut Quraish Shihab, petunjuk ada dua macam; umum dan khusus.

Petunjuk khusus itu, memberi tahu dan mengantar. Allah memberi tahu

kepada semua manusia tentang ini baik dan itu buruk tapi tidak semua

diantar oleh-Nya. Di sisi lain ada yang tidak sekedar diberitahu jalan

baik, namun juga diantar jika orang itu menginginkan. Meski demikian,

Allah tidak memberi petunjuk khusus mereka yang tidak menempatkan

sesuatu pada tempatnya.(islamindonesia.id)


Simak videonya: 




 



Posting Komentar

 
Top